Jumat, 25 Februari 2011

Lead to Bless Leader

Kontributor : Edy Sujarwo

Seringkali kita bertanya mengapa setiap terjadi perubahan posisi pada level tertentu, terjadi pula perubahan peran baik sikap dan perilaku pemimpin ?, sepertinya kursi nomor satu seringkali menjadi kursi perubahan. Dari bertanya menjadi menjawab, dari menunjuk menjadi ditunjuk kesalahan, dan seluruh kata yang akan keluar -pun diatur sedemikian rupa, tidak lagi bisa asal berbicara.

Itu setidaknya salah satu fakta tentang kepemimpinan yang membuat kepemimpinan, menjadi sebuah studi yang tak pernah kehilangan daya tarik sampai sekarang ini. Kepemimpinan menyangkut kita semua; setiap orang dalam skala tertentu pastilah pernah memimpin meskipun hanya untuk dirinya sendiri.

Berdasarkan pengalamannya di berbagai organisasi selama lebih dari 20 tahun, maka Paulus Bambang WS memaparkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda. “Be a blessing leader, and you can make the difference,” Jadilah pemimpin yang menjadi berkat (blessing); mungkin itulah pesan yang sengaja penulis ingin disampaikan ke banyak orang.




Menyambung dengan buku yang disusun sebelumnya (Built to Bless), menurut penulis bahwa kunci untuk mewujudkan “Built to Bless Company” adalah adanya pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tidak berfokus pada dirinya sendiri tetapi bertujuan mendatangkan berkat bagi yang dipimpinnya (lead to bless leader). Pemimpin ini berfokus pada dua tujuan yang saling melengkapi, yaitu perusahaan menjadi sejahtera (FIT dan PROSPER) yang berlandaskan kebenaran, keadilan dan kasih, dan karyawan menjadi bahagia (HAPPY) karena mendapatkan kelimpahan FUND (material) with FUN (emosional) by FAITH (spiritual).

Ditinjau dari sisi fungsi Human Resource, ini adalah alternatif dan pendekatan yang baru dalam memandang karyawan. Karyawan tidak lagi hanya dipandang sebagai “human capital”, tetapi sudah sebagai “human being”. Kepemimpinan yang seperti ini berfokus pada pemenuhan manusia seutuhnya untuk mencapai kemakmuran material dan bukan sebaliknya. Pemimpin lead to bless ini apabila dibedah terdiri dari hati (the heart) yang adalah karakternya, kepala (the head) atau talenta sebagai fondasi kompetensinya, tangan kirinya yang berfungsi sebagai “the working hand”, dan tangan kanannya yang berfungsi sebagai “the loving hand”.

Konsep “The Hand of a Leader” adalah tangan yang mempraktekkan talentanya tersebut. Ini menunjukkan bagaimana seseorang berkiprah secara langsung untuk membuktikan bahwa di bawah kepemimpinannya perusahaan dan karyawan akan menggapai sukses. Tangan kiri pemimpin (the working hand) mempunyai 10 fokus yang harus diperhatikan sebagai seorang pemimpin bisnis. Fokus pertama dan terutama adalah pelanggan (customer). Kemudian disusul oleh daftar C berikutnya, yaitu competitiveness, channel of distribution, core competence, culture and character, collaboration, commercial, community development, capital, dan control the destiny. Tangan inilah yang akan memastikan perusahaan sejahtera (FIT dan PROSPER).

Tangan kanan pemimpin (the loving hand) akan memastikan karyawan bahagia. Tangan yang penuh belas kasihan dari pemimpin sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan luka batin yang dialami karyawan ketika berhubungan dengan pemasok dan pelanggan. Tangan kanan ini mempunyai peran sebagai Commander, Communicator, Conductor, Converter, dan Comforter; serta mempunyai tanggung jawab untuk memberikan Comprehension, Correction, Connection, Celebration, dan Compensation.

Kepemimpinan dengan gaya seperti ini menuntut pengorbanan dan pengabdian diri secara menyeluruh. Lebih dari sekadar tugas biasa yang memiliki tanggung jawab dan tanggung gugat tapi memerlukan unsur lain yang sangat penting yakni adanya panggilan (calling) sebagai tanggung rasa yang menurut penulis, adanya bentuk kesatuan antara hati, kepala, dan tangan. Tanpa kesatuan ketiganya, akan terjadi dualisme atau lebih yang membuat seorang pemimpin harus bermain sandiwara yang melelahkan karena ada bagian yang harus mengakomodasi bagian lain yang dimunculkan.

Buku ini memberikan alternatif dan pendekatan yang diharapkan dapat mendorong lahirnya pemimpin yang mampu menjadi blessing bagi perusahaan dan karyawannya.

JIka anda ingin menjadi pimpinan dalam beberapa tahun ke depan, ada baiknya anda meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku ini.

*Edy Sujarwo, Training Spv - Human Resource Department

Tidak ada komentar:

Posting Komentar