Kontributor : Erwan Yuni Prasetyanto*
Kesuksesan seseorang, ternyata sebanyak 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya (EQ), sementara kecerdasan intelektual (IQ) hanya memberikan kontribusi peran sebesar 20 persen. Seperti apakah kecerdasan emosi itu?
Sebuah kisah tragis telah menimpa seorang siswa kelas dua SMU, beberapa tahun lalu. Seorang pemuda rajin dan pandai, disukai teman-temannya karena pandai bergaul dan aktif dalam kegiatan dan kepengurusan OSIS sekolahnya, ditemukan telah menjadi mayat karena melakukan gantung diri di kamar mandi rumahnya!
Seluruh guru dan temannya tidak percaya, bahkan Ayah, ibu dan saudaranya pun masih belum bisa mempercayai kenyataan tersebut, walau telah membaca berulang kali rangkaian kalimat yang dituliskan si pemuda dalam surat ia tinggalkan di meja belajarnya. Dalam surat terakhirnya itu si pemuda mencoba menuturkan kesedihan dan kekecewaan batinnya yang amat sangat mendalam, karena telah gagal memenuhi janjinya sehingga memilih jalan pintas dengan maksud menebus kesalahan yang telah menghimpit perasaannya.
Mari kita bayangkan juga kejadian lain, ketika anak-anak sedang melalui kewajiban untuk mengikuti ujian akhir sekolah. Sebelumnya, mereka telah berusaha belajar berbulan-bulan di bawah bimbingan guru, dan mengerjakan beratus-ratus soal-soal latihan. Pada hari pelaksanaan ujian, mereka merasa mantap dengan persiapan yang telah dilakukan selama ini.
Kesiapan mental mereka ternyata mulai goyah setelah mulai membaca soal-soal ujian yang dibuat oleh sekolah lain, dan model soal serta materi yang ditanyakan di sana sangat jauh berbeda dengan apa yang selama ini diajarkan oleh guru mereka! Tentu saja, anak-anak pun kelabakan menghadapinya. Seorang anak segera mengalami down, kejatuhan mental karenanya. Timbul perasaan kecewa karena ternyata persiapan matang yang sudah dilakukan selama ini salah dan tak berguna. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, wajahnya tegang, dan hafalan-hafalan yang semula sudah lekat di kepala pun tiba-tiba hilang tak bersisa. Akhirnya ia pun menyelesaikan ujiannya dengan hampir separuh soal tak terisi.
Anak yang lain bereaksi dengan mencoba meredam keterkejutannya, melihat betapa sulit soal yang dihadapinya. Ia menarik nafas panjang, menegakkan punggungnya, dan berusaha menenangkan hatinya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia telah berusaha sebaik mungkin untuk belajar. Maka ia pun mulai mencoba membaca dengan hati-hati soal demi soal dengan tenang, dan mencoba menjawab sebatas kemampuannya. Ternyata, ia bisa menyelesaikan seluruh soal yang ada, walaupun banyak yang diisinya penuh keraguan, namun ia tak membiarkannya kosong tak berisi, karena bukankah mencoba mengisinya masih lebih baik dari pada tidak diisi sama sekali?
Dalam kisah di atas, baik pemuda dan anak sedang dihadapkan kepada situasi yang menegangkan dan menimbulkan kekecewaan serta kekhawatiran yang mencekam. Dan kedua anak telah menunjukkan dua reaksi emosi yang berbeda dalam menghadapinya, reaksi tersebut terkait dengan kecerdasan emosinya masing-masing.
Apakah itu kecerdasan emosional itu?
Sisi kepribadian manusia, terdiri dua dimensi yang berbeda, yaitu sisi rasional dan sisi emosional. Sisi rasional menyangkut kemampuan manusia dalam menghitung, meneliti, memikirkan sebab akibat, menjalankan mesin dan memproduksi sesuatu. Sementara sisi emosional membawa nuansa perasaan, menyangkut suasana hati gembira, sedih, kecewa, tegang, takut, hingga pasrah.
Seberapa mampu seseorang mengatasi kesedihan, ketakutan dan mengelola berbagai sisi emosi dalam dirinya itulah yang disebut kecerdasan emosi. Seseorang yang emosinya cerdas, ia akan tahu dan mampu menata perasaannya, kapan ia harus marah, sedih atau kecewa, dan kapan pula ia boleh gembira. Selain mampu mengelola emosi diri sendiri, seseorang yang emosinya cerdas pun pandai memahami keadaan orang lain. Mereka mudah merasakan kesedihan dan kekhawatiran yang dirasakan temannya, sehingga tumbuh empati mereka untuk menghibur teman tersebut. Terhadap teman yang sedang jengkel, marah dan mengejek dirinya pun ia mudah memaafkan. Kepandaian dalam bersosialisasi, termasuk salah satu aspek kecerdasan emosi. Seseorang pandai bergaul, tidak pemalu, dan cenderung mengutamakan orang lain, setelah kepuasannya sendiri tercukupi.
Contoh perbedaan reaksi anak dalam menghadapi masalah di atas, cukup memberikan gambaran bagaimana kecerdasan emosi memberikan peran yang amat besar untuk menentukan berfungsi tidaknya otak rasional. Orang yang tak memiliki kecerdasan emosi memadai, akhirnya tak mampu mengendalikan stressnya hingga otak rasionalnya tak bisa berfungsi sempurna. Intelektualitasnya telah dikuasai dan dikalahkan oleh emosinya yang sedang buruk.
![]() |
Erwan Y. Prasetyanto Internal Audit Spv Finance & Accounting Dept |
Contoh kemampuan anak kedua dalam mengendalikan stress, cukup memberikan gambaran betapa besar peran sisi emosi ini dalam mengendalikan intelektualitas seseorang. Mudah dipahami, bahwa Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional mengungkapkan dalam bukunya, Emotional Intelligence, bahwa perbandingan peran antara kecerdasan emosional dibanding kecerdasan intelegensi dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang adalah setara dengan perbandingan 80 : 20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar