Kontributor : Abdul Rofiq*
Pada umumnya setiap orang yang bekerja dituntut harus menjadi Hard Worker atau SMART worker, tetapi ada yang lebih penting dalam bekerja adalah bagaimana suatu pekerjaan itu bisa dimaknai bukan pada "apa yang dikerjakan", tetapi pada bagaimana mereka memaknai pekerjaan tersebut.
Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda yang hal tersebut akan berpengaruh pada sikap dan perilakunya terhadap pekerjaan. Seorang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang penting, bernilai, bahkan mulia, tentu akan menunjukkan sikap kerja yang berbeda dengan orang yang memaknai pekerjaannya sebagai hal yang tidak penting, tak bernilai, bahkan hina. Seperti yang disampaikan oleh Anton, yang bekerja sebagai wiraniaga di perusahaan asuransi.
Bagi Anton bekerja hanya sebagai pekerjaan untuk nafkah hidup semata, hanya karena merasa wajib bekerja agar mendapatkan penghasilan, maka Anton bertahan di tempat kerjanya itu. Akibatnya, Anton sangat sensitif terhadap penghasilan yang diperolehnya, dan jika ada tawaran pekerjaan yang penghasilannya lebih besar, Anton tertarik untuk segera bergabung.
Berbeda dengan Anton, seorang rekan bernama Tommy memaknai pekerjaannya sebagai karier. Ia selalu berharap ada peningkatan karier dari waktu ke waktu. Artinya, ia tidak melihat uang atau gaji sebagai satu-satunya faktor penentu kepuasan kerjanya. Ia juga memperhitungkan soal-soal lain, terutama soal kekuasaan/jabatan, status sosial, dan gengsi. Walau gajinya sama dengan penghasilan rata-rata industri, namun ia tetap bersemangat bekerja, karena merasa ada prospek karier untuk menjadi kepala cabang di tahun-tahun mendatang dan suatu saat ia akan mulai berpikir untuk mencari pekerjaan baru, bila kariernya ditempat tersebut sudah mentok.
Lain halnya dengan Titin yang sehari-hari bekerja sebagai penulis lepas. Ia memaknai pekerjaannya sebagai panggilan batin. Ia mencintai pekerjaannya. Sebagai seorang ibu single parent dari dua orang anak usia remaja, sejak suaminya meninggal dunia, Titin ikhlas tidak mendapatkan imbalan material apapun dari karya tulisnya yang dipublikasikan pihak lain untuk tujuan sosial. Ia merasa memang itulah tugasnya, ia merasa ada kemuliaan dari apa yang dikerjakannya. Dan ia juga sangat menikmati kebebasan waktu kerjanya yang menurutnya "tak ternilai harganya". Sebab, sebagai penulis lepas ia bisa mengatur sendiri waktu untuk mengurus anak-anak dan mencari nafkah. Karenanya, walau penghasilan Titin tak berlebihan, ia tak pernah berpikir untuk berganti menekuni pekerjaan lain.
Baik Anton, Tommy, maupun Titin, adalah wajah dari orang-orang di sekitar kita yang bisa jadi telah merasakan kepuasan yang berbeda atas hasil-hasil pekerjaannya. Sejumlah psikolog telah melakukan berbagai riset untuk mendalami masalah kepuasan kerja dan kepuasan hidup, menyimpulkan bahwa, hanya orang-orang yang mampu memaknai pekerjaannya sebagai hal yang berkaitan dengan panggilan hidup atau amanah yang harus ditunaikanlah yang mengalami kepuasan kerja dan kepuasan hidup paling maksimal.
Orang-orang tersebut pada umumnya memiliki minat yang tinggi terhadap apa yang mereka kerjakan, dan menikmati sifat-sifat dari pekerjaannya. Itu sebabnya ada kegembiraan dalam bekerja, dan motivasi mereka mengalir dari dalam batinnya. Mereka menjadi orang-orang yang tidak saja produktif dan kreatif, tetapi juga sekaligus loyal dengan tugas pekerjaannya.
Bagaimana dengan kita dalam memaknai pekerjaan yang kita pilih saat ini? Adakah pekerjaan yang kita lakukan hari-hari ini sesuai dengan minat dan potensi terbaik kita? Disamping soal uang, apakah pekerjaan kita sesuai dengan panggilan hidup kita, atau sebagai amanah dari Tuhan yang memang perlu ditunaikan? Mampukah kita melihat kemuliaan dari pekerjaan kita?
Diri kita secara pribadi tentu memiliki jawabannya masing-masing. Yang jelas, bila kita ingin meningkatkan kepuasan kerja dan kepuasan hidup kita, maka hal terpenting yang mungkin perlu kita periksa adalah bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari, semua itu tergantung pada pilihan kita dan diri kita sendiri kuncinya.
Abdul Rofiq
Division Manager
AJBS Home Furnishings
Store Departement
Tidak ada komentar:
Posting Komentar